Tiga Pangeran dan Apel Emas
ditulis oleh Made Teddy Artiana, S. Kom
fotografer, penulis & grafik designer
Inilah kisah tentang Azarya, Mahaguru pembimbing taruna-taruna kerajaan yang utama. Seluruh raja mengirimkan putera-putera mereka kehadapannya. Mereka ingin para pangeran itu dididik, ditempa, ditanamkan hikmat dalam hati mereka, untuk kemudian siap menjadi raja dalam kesejatian yang sesungguhnya.
“Tiga hari lagi kita akan berkumpul di sebuah semenanjung tempat bersarangnya para elang laut, satu-satunya tempat berkumpulnya ganggang biru dan tempat terindah dimana tenggelamnya Sang Surya.”, ujar Azarya kepada para murid, kemudian berjalan meninggalkan mereka kembali ke rumahnya.
Sebagian dari para murid yang menganggap dirinya tahu tempat yang dimaksudkan oleh guru mereka mengangguk-angguk, namun tidak sedikit yang berbisik resah tak mengerti. Sisanya terlihat berpikir demikian keras berusaha menebak tempat yang dimaksud oleh sang guru.
Hari yang ditentukan tiba.
Dari lima puluh orang murid, hanya dua puluh orang yang tiba disana. Sebagian besar dari kumpulan itu tampak begitu lusuh karena perjalanan yang telah mereka tempuh, bahkan beberapa orang diantara mereka tampak kelelahan, haus dan lapar dan menggigil pucat terserang demam.
“Dahulu kala hiduplah seorang Raja dengan tiga orang anak nya”, Azarya bercerita seolah tidak memperdulikan keadaan para murid, “untuk menguji anak-anaknya, Raja itu sengaja membuatkan logam tempaan berbentuk buah apel yang terbuat dari emas, perak dan kuningan. Ia menyuruh pegawai istana menyembunyikan beberapa diantaranya di berbagai pelosok kerajaan itu, lalu bersabda pada ketiga pangeran. ‘Aku memiliki banyak apel emas dan perak, aku ingin kalian memilikinya. Aku meletakkan sebagian diantaranya diberbagai tempat tersembunyi dinegeri ini’.
Demi mendengar itu semua pangeran yang tertua yang terkuat dari ketiganya, segera mempersiapkan perbekalan untuk menempuh perjalanan mencari benda-benda itu, bersama sepasukan prajurit yang gagah perkasa.
Pangeran kedua, ia yang paling terpelajar dari ketiganya segera membuka kitab-kitab mantera yang ia miliki. Mempelajari dengan cermat, siang dan malam, berusaha untuk mengetahui kira-kira dimana sang raja meletakkan itu semua. Lalu pergilah ia bersama para penasehat mencari benda-benda itu.
Tetapi pangeran bungsu, ia yang paling mengenal ayahandanya melakukan hal yang sama sekali berbeda dari keduanya. Ia tidak memperdulikan apel-apel itu. Yang terutama ada dipikirannya adalah memberikan kejutan dihari ulang tahun Ayahanda nya. Ia menyembelih seekor domba tambun dan mengolah masakan kegemaran Ayahanda nya. Itu belum cukup, sang pangeran bungsu juga berjalan ke hutan terdekat, lalu mencari sekumpulan buah yang memang sangat disukai sang raja. Tidak hanya itu ia juga menciptakan sebuah lagu khusus yang berisi puji-pujian dan rasa syukurnya karena telah dilahirkan kedunia ini dalam keadaan putera seorang raja yang begitu mulia. Dan pada saat waktu yang tepat ketiga hal itu dipersembahkannya kepada raja. Makanan yang nikmat, buah-buahan segar dari hutan dan puji-pujian syukur yang dinyanyikan dengan segenap ketulusan yang ia miliki.
Raja, ayahandanya terkesima. Raja sama sekali tidak menyangka akan apa yang dilakukan oleh putera bungsunya ini, sementara kedua puteranya yang lain sibuk mencari apel emas dan melupakan hari ulang tahun ayah mereka. Beliau bahkan hampir menangis akan apa yang dilakukan oleh pangeran bungsunya.
‘Apapun yang kau minta akan kuberikan padamu wahai anakku, yang tercinta diantara mereka yang dicintai. Apa yang kau minta anak ku ?’ tanya sang raja kepada pangeran bungsu. ‘Apakah apel emas dan perak ?’.
Pangeran bungsupun menjawab, ‘Ayahanda tidakkah engkau mendengar lagu-lagu yang kunyanyikan ? Dilahirkan sebagai putera raja sudah merupakan sebuah kehormatan besar untuk ku. Lagipula apel emas dan perak itu adalah milik mu, dan jika aku menginginkannya aku tidak perlu mengembara ke hutan dan gunung untuk mencarinya, aku tinggal meminta kepada Ayahanda, dan jika engkau berkenan bukan sebuah persoalan yang begitu besar bagimu, Ayah pasti memberikannya kepadaku. Karena engkau adalah seorang raja, dan apapun akan menghamba dalam titah dan keinginan mu. Bukankah demikian Ayahanda ?’.
Mendengar itu semua, maka Sang Raja segera turun dari kursi kerajaan dan memeluk pangeran bungsu erat-erat.’Betapa Sang Khalik memberikan seorang anak berhati emas padaku. Engkau benar anakku, jangankan apel emas, bahkan tahta itu milikmu’.”
Azarya pun terdiam mengakhiri kisahnya. Begitupun para murid, kedelapan puluh orang yang berhasil sampai di sana, tempat bersarangnya para elang laut, satu-satunya tempat berkumpulnya ganggang biru dan tempat terindah dimana tenggelamnya Sang Surya. Semenanjung Naralaya.
“Dua puluh orang tersesat dan tidak berhasil sampai disini”, ujar sang guru sambil menyibak rambut keperakannya yang tertiup angin dan menghamburkan helaian-helaiannya kewajah tua Azarya.
“Ada yang menggigil karena demam tertusuk karang beracun, tersiksa perjalanan berat, lemah karena lapar dan haus, karena tak membawa bekal. Hanya lima orang yang setiap hari menunggu dipintu rumahku, meminta ikut serta ke Semenanjung ini, karena mereka tidak tahu tempatnya.”
Kini Sang Guru melangkah menuju kelima orang murid yang telah dipisahkannya dari para murid yang lain. Mereka tampak begitu segar, wajah mereka bersinar, tanpa debu sedikitpun melusuhkan pakaian mereka.
“Mereka orang-orang yang sederhana. Namun kesederhanaan seringkali adalah kekuatan dan kebijaksanaan”, ujar Azarya.
”Hidup ini tidak sesulit yang kita bayangkan, tidak sekeras yang digembar-gemborkan orang. Hidup ini dirancang begitu luar biasa mengagumkan oleh Sang Pencipta. Mendekatlah kepada DIA, pemilik hidup ini, bertanyalah pada-NYA, bersandarlah terutama hanya kepada cinta-NYA dan senangkanlah hati-NYA dengan tulus, maka cinta dan keperkasaan dari Sang Khalik akan memeluk mu, kebijaksanaan dari-NYA akan menuntun langkah mu dan segala keberuntungan akan diperintahkan-NYA menghambakan diri kepada orang-orang yang diicintai-NYA. Masa depan bukanlah milik mereka yang perkasa, bukan juga kepunyaan para bangsawan, saudagar dan para cerdik cendikia, bahkan para pelihat hanya mampu menerawang dengan tidak pasti masa itu. Semua kekuatan, kecepatan, kecerdikan, kepandaian manusia sekonyong-konyong akan terhenti, ketika dihadang keperkasaan rahasia kehidupan. Masa depan adalah dalam genggaman-NYA, pemilik tunggal dari segala sesuatu. Sehingga jika kalian cukup dikasihi oleh DIA yang menguasai keseluruhan masa, baik masa lalu, saat ini, maupun masa depan, kalian sudah memiliki seluruh yang kalian butuhkan untuk keluar sebagai pemenang dalam hidup ini, mereka yang tidak perlu mengkawatirkan apapun dan tidak terkalahkan oleh apapun juga”
Segera sesudah mengatakan itu semua, Azarya memerintahkan kelima orang itu untuk memberi makan kelimabelas orang murid yang lain. Lalu mereka berjalan pulang ke rumah Azarya, melewati sebuah gua indah yang letaknya dibawah semenanjung itu dan ujungnya berakhir persis di halaman belakang rumah Azarya, guru mereka yang bijaksana. (selesai)
Sabtu, 17 Juli 2010
Selasa, 30 Maret 2010
Nice story :Tiba-Tiba Tersadar Terlalu Terlambat !
Assalamualaikum,
Sekedar berbagi cerita dan mengingatkan juga buat kita2 yg masih muda, bahwa tugas kita lah untuk membahagiakan orang tua, bukan di saat kita sudah mampu dan mandiri dgn keluarga yg kita bangun, justru kita menyingkirkan orang tua kita dengan menempatkan mereka di panti jompo….
Naujubillah min zaliik…. Jauhkanlah pikiran itu dari kami ya Allah
Ini cerita yang bagus untuk dibaca,aku iseng baca 2 di blog terrus aku temuin cerita ini,judulnya :
Tiba-Tiba Tersadar : Terlalu Terlambat !
oleh Made Teddy Artiana, S. Kom
oleh Made Teddy Artiana, S. Kom
(company profile developer)
“Nobody can go back and start a new beginning, but anyone can start today and make a new ending.” ~Maria Robinson
Kakekku pernah mengatakan ini padaku.
Kakekku pernah mengatakan ini padaku.
“Selama kita masih diberi umur dan kesehatan oleh TUHAN, bekerjalah sekeras mungkin, menabung sebanyak mungkin dan berbuat sebaik-baiknya untuk diri sendiri dan orang lain. Karena waktu bukan sesuatu yang tidak terbatas”. Dan kini, dalam perjalanan meeting ke rumah client kami, aku bertemu perwujudan nyata dari hal-hal tersebut.
Peristiwa pertama yang kutemui adalah seorang tua, dengan topi dan kemeja lusuh -yang sudah sangat pantas dijadikan lap kotor- bersandal jepit kumal keriting, berdiri dipersimpangan jalan. Mengatur lalu lintas dan berharap belas kasihan uang receh sebagai imbalannya. Polisi gopek.
Kemudian, seorang tua renta –kali ini jauh lebih tua dari yang pertama tadi- dengan mata kiri yang cacat, berpakaian tukang parkir berjalan mendekat kearah mobil ku. Sebenarnya, sedari tadi orang ini sudah menarik perhatianku. Betapa tidak, dalam usia seperti itu bekerja sebagai tukang parkir. Setiap hari berkeliaran dipinggir jalan aspal, dibawah terik matahari membakar, berselimut debu dan asap dari mulut knalpot seantero kendaraan di Jakarta. Mungkin karena sudah terbiasa, ia tidak terlalu peduli dengan keadaannya itu. Tetapi bagi ku pribadi ini adalah pemandangan keadaan dibawah standard kemanusiawian. Orang tua seperti dirinya seharusnya sudah beristirahat dirumah bersama anak cucu tercinta. “Ya ampun, biar Pak, nggak usah…”, kataku sambil bergegas setengah berlari kearahnya. Orang tua itu menggenggam handle pintu mobil, dan berniat membukakannya bagiku. Aku menyentuh tangan-tangan keriput berdebu dengan hiasan urat-urat kasar disekelilingnya.
“Pak, anak atau cucu bapak dimana ?”, tanyaku tak sabar lagi.
Ia tersenyum ramah lalu menunduk. Sesaat terdiam, sementara aku tetap menunggu jawabannya tak mau beranjak. Akhirnya wajah itu terangkat, kini matanya diselimuti air, sementara pundak-pundak tua itu tampak bergetar. Ia menangis. “Ada..”, jawabnya lirih. Sekarang rasa haru menyelimuti dadaku. Mungkin pertanyaan penasaran dariku membuka kembali luka dan menjadi terlalu berat untuk dicarikan jawabannya.
“Ya sudah Pak..tak perlu diceritakan”, ujarku selembut mungkin, tak ingin menyiksanya terlalu lama. Setelah membayar parkir, aku segera berlalu sambil membisikkan sebuah doa baginya, TUHAN menyertaimu.
Kini setibaku di rumah client kami, pemandangan kontraspun terhampar didepan mata.
Seorang bapak -pemilik sebuah perusahaan minyak ternama, dengan lima orang anak, dirumah mereka yang elegan, tak lupa seorang sopir, pengawal dan mobil mewah yang siap mengantar kemanapun ia akan pergi-tengah membagi-bagikan uang lima puluh ribuan kepada cucu-cucunya, berjumlah tujuh orang dan beberapa lembar seratusribuan kepada beberapa orang keponakan beliau. Ada dua cucu beliau, mungkin karena masih kecil untuk mengerti angka limapuluh ribu, tidak terlalu menggubris pemberian eyang mereka, meletakkan dengan sembarang uang itu, lalu asyik berkejar-kejaran dengan cucu yang lain.
“Biasa Mas Made, mereka belum ngerti uang, biasanya sih saya memberikan hadiah kecil buat mereka. Tapi tadi saya lupa, biar bapak ibunya aja yang beliin buat dia”, ujar beliau sambil tersenyum.
Jelas laki-laki ini begitu terhormat dan berada dalam status sosial dan kualitas hidup beratus-ratus tingkat diatas kedua lelaki yang kuceritakan sebelumnya diatas.
Apakah hidup melakukan sebuah kekeliruan ? Apakah TUHAN yang salah menempatkan sebuah kemuliaan ? Ataukah kita –para manusia ini- yang tidak tahu menghormati betapa mulianya diri kita, dan betapa berharganya hidup ini ?
Kesaksian orang-orang mulia, bijak dan kaya menunjukkan tidak adanya kesalahan dalam hal-hal tersebut. Bahwa hidup sudah diprogram sedemikian rupa untuk hanya memberikan kemuliaan hanya kepada mereka yang hidup didalamnya. Bahwa hidup hanya akan merekam lalu mengembalikan apa saja yang kita berikan kepadanya. Bahwa TUHAN dengan segala keagungan dan keadilannya selalu saja mengganjari setiap orang menurut kesucian tangan dan hidup mereka. Dan bahwa manusia itu sedari awal adalah berharga dan mulia dimata-NYA. Kita terlalu dicintai-NYA.
Hanya saja banyak diantara kita dulu merasa terlalu perlu menghormati diri dan hidup ini, mungkin karena merasa terlalu muda, terlalu tampan, terlalu sexy, terlalu exist, terlalu asyik dengan hal-hal yang tidak memuliakan diri kita, lalu kemudian tiba-tiba tersadar disuatu pagi, dan menemukan segalanya sudah terlambat. Terlalu terikat kebiasaan buruk, terlalu berpenyakit untuk menikmati hidup, terlalu miskin untuk memberi, terlalu banyak masalah untuk sekedar bernafas, terlalu tua, terlalu lemah, terlalu terlambat.
Sungguh setiap orang jika diletakkan dalam jajaran waktu adalah merugi.
Memang benar ada peribahasa : manusia berencana, TUHAN menentukan. Namun ada benarnya juga jika kita sadar, bahwa rencana-rencana mulia TUHAN tidak akan terwujud pada hidup kita, jika kita menolak menjalankan rencana-rencana- NYA. Karena TUHAN bukan lah diktator, yang kemudian merebut paksa “kebebasan bersikap” yang IA berikan pada kita.
Seandainya saja kita menuruti-NYA. Ya, seandainya saja kita menurut.
–
what a wonderfull journey !!!
semoga cerita ini bermanfaat untuk kita semua..amin
Wassalamualaikum..
anna 
Langganan:
Postingan (Atom)